(Opini Oleh: Riezka Hasrowan Syahputri mahasiswi FISIP HI Jayabaya)
Rabu 29 April 2026
OPINI || MTV.CO - Perkembangan media online di era digital saat ini telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam membentuk tren fashion, beauty, dan gaya hidup perempuan. Media tidak lagi hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian informasi, tetapi juga menjadi ruang konstruksi identitas, preferensi, hingga standar estetika yang berkembang di masyarakat global.
Dalam beberapa tahun terakhir, platform media sosial seperti Instagram, TikTok, dan Pinterest telah menjadi pusat utama dalam penyebaran tren perempuan. Melalui fitur visual yang kuat, platform tersebut memungkinkan pengguna untuk menampilkan gaya berpakaian, rutinitas kecantikan, hingga gaya hidup sehari-hari yang kemudian dengan cepat diadopsi oleh pengguna lain.
Fenomena ini menunjukkan bahwa media online memiliki kekuatan dalam menciptakan apa yang disebut sebagai “trend cycle” atau siklus tren yang bergerak sangat cepat. Tren yang sebelumnya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk berkembang, kini dapat berubah hanya dalam hitungan minggu bahkan hari. Hal ini terlihat dari munculnya berbagai tren seperti “clean girl aesthetic”, “soft girl”, hingga “Y2K fashion” yang dengan cepat mendominasi ruang digital.
Dari perspektif konseptual, fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori konstruksi sosial media, di mana realitas sosial dibentuk melalui interaksi dan representasi yang terus-menerus ditampilkan di media. Dalam konteks ini, perempuan tidak hanya menjadi konsumen tren, tetapi juga produsen konten yang secara aktif membentuk arah tren itu sendiri. Hal ini memperlihatkan adanya pergeseran peran dari audiens pasif menjadi aktor aktif dalam ekosistem media digital.
Selain itu, tren fashion dan beauty yang berkembang di media online juga mencerminkan dinamika globalisasi budaya. Gaya berpakaian dan standar kecantikan dari berbagai belahan dunia dapat dengan mudah diakses dan diadaptasi oleh perempuan di Indonesia. Misalnya, tren skincare dari Korea Selatan, gaya fashion minimalis dari Eropa, hingga makeup bold ala Amerika Serikat, semuanya dapat ditemukan dalam satu platform digital yang sama.
Namun demikian, dominasi tren perempuan di media online juga menghadirkan tantangan tersendiri. Standar kecantikan yang terbentuk seringkali bersifat tidak realistis dan dapat mempengaruhi kepercayaan diri individu. Selain itu, tekanan untuk selalu mengikuti tren terbaru juga dapat memicu konsumsi berlebihan, terutama di kalangan generasi muda.
Di sisi lain, media online juga membuka ruang yang lebih inklusif bagi perempuan untuk mengekspresikan diri. Berbagai gerakan seperti body positivity dan self-love turut berkembang melalui media sosial, memberikan alternatif narasi yang lebih beragam dan autentik terhadap standar kecantikan yang selama ini ada.
———————
Ruang Opini Pribadi Penulis
Menurut aku, tren fashion, beauty, dan lifestyle yang berkembang di media online itu sebenarnya kayak “double-edged sword”. Di satu sisi, kita jadi punya lebih banyak referensi buat eksplor gaya dan ngebentuk identitas diri—mau jadi soft girl, edgy, minimalis, atau bahkan mix semuanya juga bisa. Tapi di sisi lain, kadang tanpa sadar kita ke-drag sama standar yang dibentuk media, seolah-olah harus selalu “on trend” biar relevan. Padahal kalau dipikir-pikir, tren itu cepat banget berubah, jadi kalau kita terus ngejar validasi dari luar, capeknya bukan main dan malah bikin kita kehilangan sense of self yang sebenarnya. Dalam konteks ini, media bukan cuma jadi ruang inspirasi, tapi juga bisa jadi tekanan sosial yang halus tapi terus-terusan hadir.
Menurut perspektif aku sebagai Gen Z, yang lebih penting sekarang bukan sekadar ikut tren, tapi gimana kita bisa nge-filter tren itu sesuai value dan kenyamanan diri sendiri. Media online emang powerful banget, tapi kita juga punya kontrol penuh atas apa yang kita konsumsi dan kita tampilkan. Jadi instead of cuma jadi “follower tren”, kita juga bisa jadi trendsetter versi diri kita sendiri—yang lebih autentik, lebih real, dan nggak cuma aesthetic di feeds, tapi juga meaningful secara personal. Dengan begitu, tren yang kita ikuti bukan lagi sekadar ikut-ikutan, tapi benar-benar jadi representasi diri yang sadar dan punya arah.
———————
Kesimpulan
Dari sudut pandang generasi Z, tren fashion, beauty, dan lifestyle bukan hanya sekadar mengikuti apa yang sedang viral, tetapi juga menjadi bagian dari cara mengekspresikan identitas diri di ruang digital. Generasi Z cenderung lebih kritis dalam memilih tren, dengan mempertimbangkan nilai autentisitas, kenyamanan, serta keberlanjutan.
Media online bagi generasi Z bukan hanya tempat untuk melihat tren, tetapi juga ruang untuk menciptakan tren. Oleh karena itu, penting bagi generasi ini untuk tetap bijak dalam mengonsumsi dan memproduksi konten, agar tren yang berkembang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memberikan dampak positif bagi individu maupun masyarakat.
———————
Demikian hasil diskusi dalam kelas mata kuliah Media dan Hubungan Internasional oleh dosen dan mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jayabaya pada hari Rabu (29/4/2026). Diskusi ini menghasilkan tulisan di atas. Tulisan di atas juga diolah dengan teknologi Artificial Intelligence (AI) sebagai alat bantu dalam merumuskan ide dan menyusun analisis secara sistematis. (Opini Oleh : Ester Elena Siadari mahasiswi HI-FISIP kelas Media & Hub. Internasional Universitas Jayabaya)

0Comments