A Multipolar World, Iran-Israel-US War, and Global security guide for Indonesia Youth
Internasional || MTV.CO - A Multipolar World, Iran-Israel-US War, and Global security guide for Indonesia Youth Narasumber : H.E. Drs Iwan Wiranaatmadja. Pada kegiatan Diplomats Dialogue #3, Speaker : H.E. Drs. Iwan Wiranataatmadja menyampaikan : materi berjudul “A Multipolar World, Iran–Israel–US War, and Global Security: Survival Guide for Indonesian Youth.”
Seminar ini membahas perubahan tatanan dunia internasional, konflik Iran–Israel, serta dampaknya terhadap keamanan global dan Indonesia.
Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan bahwa setelah Perang Dunia II, Amerika Serikat menjadi negara yang sangat dominan dalam berbagai bidang. Banyak negara menjadikan Amerika sebagai contoh dalam pembangunan ekonomi, teknologi, hingga sistem keamanan. Bahkan sebagian besar perkembangan teknologi modern yang digunakan saat ini berawal dari kemajuan yang dicapai Amerika Serikat.
Namun, kondisi dunia saat ini mulai berubah. Jika dahulu Amerika Serikat dianggap sebagai satu-satunya kekuatan utama dunia, sekarang mulai muncul negara-negara lain yang memiliki pengaruh besar, seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan. Menurut narasumber, Tiongkok menjadi salah satu negara yang paling menonjol karena mampu mengembangkan teknologi dan inovasi dengan sangat cepat. Awalnya banyak teknologi yang dipelajari dari negara-negara Barat, tetapi kemudian dikembangkan lebih lanjut sehingga mampu bersaing dengan Amerika Serikat. Kondisi inilah yang menyebabkan dunia mulai bergerak menuju sistem multipolar, yaitu keadaan ketika kekuatan dunia tidak hanya terpusat pada satu negara, tetapi terbagi ke beberapa negara besar.
Selain membahas perubahan tatanan dunia, seminar ini juga menyoroti konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat yang belakangan menjadi perhatian dunia internasional. Narasumber menjelaskan bahwa konflik tersebut tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Iran sendiri merupakan salah satu bangsa dengan sejarah peradaban yang sangat panjang dan memiliki posisi penting di kawasan Timur Tengah.
Menurut pemaparan narasumber, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan konflik ini terus meningkat. Faktor-faktor tersebut antara lain ketegangan mengenai :
1. program nuklir,
2. persaingan geopolitik energi,
3. keberadaan kelompok-kelompok proksi di kawasan,
4. kepentingan politik domestik masing-masing negara,
5. serta menurunnya kepercayaan terhadap lembaga-lembaga internasional.
Hal yang menarik adalah penjelasan mengenai perubahan bentuk peperangan di era modern. Jika dahulu perang identik dengan pertempuran fisik dan penggunaan senjata, saat ini perang juga dapat terjadi melalui berbagai cara lain, seperti embargo ekonomi, propaganda, perang informasi, dan serangan siber. Narasumber mencontohkan bagaimana Iran selama puluhan tahun menghadapi berbagai sanksi dan embargo ekonomi, tetapi tetap mampu bertahan dan mengembangkan berbagai strategi untuk menghadapi tekanan dari negara-negara lain.
Konflik yang terjadi di Timur Tengah ternyata tidak hanya berdampak pada negara-negara yang terlibat langsung. Dampaknya juga dirasakan oleh banyak negara lain, termasuk Indonesia. Salah satu dampak yang paling nyata adalah kenaikan harga energi akibat terganggunya jalur distribusi minyak dan gas dunia. Jika situasi di kawasan strategis seperti Selat Hormuz memburuk, maka harga minyak dunia dapat meningkat dan memengaruhi kondisi ekonomi global. Narasumber juga menjelaskan bahwa Indonesia memiliki beberapa kerentanan terhadap situasi global tersebut.
Ketergantungan terhadap pasar internasional membuat kondisi ekonomi Indonesia cukup sensitif terhadap perubahan harga energi dan kondisi perdagangan dunia. Selain itu, ancaman keamanan digital juga semakin meningkat karena penyebaran propaganda dan informasi yang tidak akurat melalui media sosial semakin mudah terjadi.
Oleh karena itu, generasi muda Indonesia dinilai memiliki peran penting dalam menghadapi berbagai tantangan global di masa depan. Salah satu hal yang ditekankan dalam seminar adalah pentingnya meningkatkan literasi informasi. Anak muda harus mampu membedakan informasi yang benar dan yang menyesatkan, serta tidak mudah terpengaruh oleh propaganda yang beredar di media sosial.
Selain itu, pemahaman mengenai teknologi, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), keamanan siber, dan analisis data juga menjadi kemampuan yang semakin penting di era digital.
Secara keseluruhan, seminar ini memberikan pemahaman bahwa dunia sedang mengalami perubahan besar menuju tatanan multipolar. Konflik Iran–Israel–Amerika Serikat menjadi salah satu contoh bagaimana persaingan kekuatan global dapat memengaruhi keamanan dan stabilitas dunia. Melalui seminar ini, saya belajar bahwa generasi muda tidak cukup hanya menjadi penonton, tetapi juga perlu memahami perkembangan geopolitik, meningkatkan literasi informasi, serta mempersiapkan diri agar mampu menghadapi tantangan global di masa depan.
Negara-negara di Asia Timur memiliki pandangan yang beragam terhadap konflik Iran–Israel– Amerika Serikat sesuai dengan kepentingan nasional masing-masing. Jepang cenderung mendukung penyelesaian konflik secara damai karena ketergantungannya terhadap impor energi dari Timur Tengah. Stabilitas kawasan dianggap penting untuk menjaga keamanan pasokan minyak dan pertumbuhan ekonomi Jepang.
Sementara itu, Tiongkok mendorong penyelesaian konflik melalui diplomasi dan dialog.
Tiongkok berupaya menjaga hubungan baik dengan Iran maupun negara-negara Timur Tengah lainnya karena kawasan tersebut memiliki nilai strategis bagi kepentingan ekonomi dan energi Tiongkok.
Di sisi lain, Korea Selatan juga menginginkan stabilitas kawasan Timur Tengah karena konflik yang berkepanjangan dapat mengganggu perdagangan internasional dan meningkatkan harga
energi yang berdampak pada perekonomian domestik. Secara umum, negara-negara Asia Timur lebih memilih pendekatan diplomasi dan perdamaian dibandingkan keterlibatan langsung dalam konflik tersebut. (Oleh :Hanifatushafa Al Ghifarie (2024350750013) Fisip, Universitas Jayabaya Email : gipaa7174@gmail.com)


Post a Comment