Analisa Dunia Multipolar



Jakarta || MTV.CO - Analisa Diplomat Dialogue: A Multipolar world, Iran-Israel-US War, and Global security guide for Indonesia Youth.

Pada kegiatan Diplomats Dialogue #3, H.E. Drs. Iwan Wiranataatmadja memaparkan materiilmiah bertajuk “A Multipolar World, Iran–Israel–US War, and Global Security: Survival Guide for Indonesian Youth.” Diskusi publik ini membedah transformasi struktural dalam tatanan internasional, eskalasi militer antara Iran dan Israel, beserta implikasi komprehensifnya terhadap stabilitas keamanan global maupun nasional. 

Mengacu pada dinamika materi tersebut, substansi yang disampaikan oleh narasumber dapat dianalisis secara mendalam melalui kacamata geopolitik negara-negara Asia Timur, khususnya Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan, yang memiliki kepentingan strategis multidimensi terhadap pergeseran kekuasaan global ini.

Materi seminar Pak Iwan menekankan bahwa dunia sedang bergerak dari era unipolar menuju multipolar yang tidak lagi didominasi oleh satu kekuatan tunggal. Dari sudut pandang Asia Timur, dinamika ini dibaca secara dikotomis. 

Tiongkok melihat runtuhnya tatanan unipolar Barat sebagai peluang historis untuk menegaskan posisinya sebagai kutub utama di kawasan Indo-Pasifik. Bagi Beijing, multipolaritas memvalidasi kebangkitan ekonomi dan pengaruh diplomatik mereka melalui proyek-proyek global. 

Dalam konflik Timur Tengah, Tiongkok cenderung mengambil posisi pragmatis yang menentang intervensi militer sepihak oleh Amerika Serikat dan sekutunya, demi mengamankan rute perdagangan global mereka. 

Sebaliknya, sebagai sekutu tradisional Amerika Serikat, Jepang dan Korea Selatan memandang pudarnya era unipolar dengan kecemasan strategis. Melemahnya hegemoni AS di Timur Tengah dikhawatirkan dapat memecah fokus militer Washington, yang pada gilirannya dapat memengaruhi komitmen payung keamanan AS di Asia Timur dalam membendung ancaman regional.

Analisis narasumber mengenai kerentanan Selat Hormuz sebagai maritime chokepoint global sangat beresonansi dengan kepentingan nasional negara-negara Asia Timur. 

Kawasan ini merupakan konsumen energi terbesar di dunia yang sangat bergantung pada pasokan minyak mentah dari Teluk Persia. Bagi Jepang dan Korea Selatan, eskalasi militer terbuka antara Iran dan Israel yang melibatkan teknologi rudal presisi merupakan ancaman langsung terhadap kelangsungan industri domestik mereka.

 Gangguan navigasi sekecil apa pun di Selat Hormuz akan memicu lonjakan harga minyak mentah dan biaya asuransi perkapalan, yang dapat melumpuhkan ekonomi berbasis manufaktur di Tokyo dan Seoul. Tiongkok pun, meski memiliki kemitraan strategis dengan Iran, tetap membutuhkan stabilitas kawasan Timur Tengah demi menjamin pasokan energi jangka panjang untuk menggerakkan mesin ekonominya. Oleh karena itu, ketiga kekuatan Asia Timur ini, terlepas dari perbedaan ideologinya, sama-sama menginginkan de-eskalasi konflik guna menghindari depresi ekonomi global.

Substansi materi mengenai pergeseran karakter perang modern dari konvensional menuju multi- domain operations yang mengintegrasikan siber, kecerdasan buatan, dan perang informasi merupakan realitas yang sudah lama dihidupi oleh negara-negara Asia Timur. 

Asia Timur saat ini merupakan episentrum dari inovasi semikonduktor, komputasi awan, dan teknologi siber global. Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan sangat memahami bahwa keunggulan nasional abad ke-21 ditentukan oleh penguasaan algoritma dan ketahanan infrastruktur digital. Ketika ruang siber dan perang kognitif digunakan dalam konflik Iran-Israel, negara-negara Asia Timur melihatnya sebagai konfirmasi bahwa cyber warfare dapat melumpuhkan fungsi negara tanpa deklarasi perang formal. 


Hal ini memicu Tokyo, Seoul, dan Beijing untuk terus memperketat regulasi keamanan siber dan memitigasi risiko fragmentasi rantai pasok teknologi pertahanan mereka.

Paparan mengenai Strategic Autonomy bagi Indonesia dalam menghadapi benturan kepentingan antarkutub global sejalan dengan bagaimana negara-negara menengah (middle powers) bermanuver di Asia Tenggara. Konsep politik luar negeri bebas aktif yang dinamis menuntut Indonesia untuk tidak terjebak dalam aliansi kaku. Indonesia perlu meniru pragmatisme Asia Timur dalam hal akselerasi kualitas sumber daya manusia. Perspektif kawasan ini memperkuat argumen materi Diplomats Dialogue #3 bahwa pertahanan terbaik suatu bangsa di era multipolar tidak hanya bertumpu pada modernisasi militer fisik, melainkan pada ketahanan komprehensif yang digerakkan oleh elemen masyarakat terdidik.

Melalui keseluruhan dinamika tersebut, dapat disimpulkan bahwa pergeseran menuju dunia multipolar telah mengubah lanskap keamanan internasional secara fundamental, di mana konflik regional seperti di Timur Tengah dapat menimbulkan dampak rambatan global yang sangat luas.

Pelajaran utama yang dapat dipetik dari materi panduan ketahanan ini adalah pentingnya bagi generasi muda Indonesia untuk tidak bersikap pasif. Menghadapi dunia yang penuh ketidakpastian, pemuda harus membangun kapasitas diri dengan menguasai teknologi masa depan, memperkuat literasi geopolitik, serta meningkatkan kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah terpolarisasi oleh arus disinformasi. Pada akhirnya, masa depan kemandirian strategis Indonesia sangat bergantung pada kesiapan generasi mudanya dalam mengubah tantangan global menjadi peluang nyata bagi kemajuan bangsa. (Oleh : Kaori Nurul Khalida Mahasiswa FISIP HI Jayabaya)

Further Reading:
Copied 👍
mung pujanarko
mung pujanarko
Mung Pujanarko, S.Sos, M.I.Kom. Situs - situs : - Situs resmi PPWI (Persatuan Pewarta Warga Indonesia), Dewan Redaksi http://www.pewarta-indonesia.com, -http://www.penanegeri.com -http://www.indonesiamediacenter.com Instruktur Jurnalistik Organisasi PPWI, Dosen tidak tetap pada Jurusan Jurnalistik STIKOM Indonesia Maju (STIKOM-IMA) Jakarta, Dosen ASMI-IBM jakarta. Mengajar di STIAMI. Alumnus jurusan Hubungan Internasional FISIP Universitas Negeri Jember (UNEJ), Alumnus Program Magister Jurnalistik IISIP (Institut Ilmu Sosial Ilmu Politik) Jakarta. Wadek III FIKOM Universitas Jayabaya. Next >

Latest News

  • Analisa Dunia Multipolar
  • Analisa Dunia Multipolar
  • Analisa Dunia Multipolar
  • Analisa Dunia Multipolar
  • Analisa Dunia Multipolar
  • Analisa Dunia Multipolar

Post a Comment

Iklan
Iklan